Ingatkah engkau sahabatku…
Jangka waktu persahabatan kita bukan lagi hitungan detik, menit, bahkan jam atau bahkan hari…
Dimulai dari sebuah ketidak kenalan antara diriku dan dirimu, diawali dengan segudang rasa penasaranku terhadapmu, dimulai dengan senyummu yang membatku berani mengajakmu berkenalan…
Wahai sahabatku…
Kita telah sama-sama mengetahui, bahwa aku bukanlah orang yang mudah untuk percaya sama orang lain, bahwa kamu bukanlah orang yang suka dikhianati, dan kita sama-sama telah berkomitmen untuk mempercayai satu dengan yang lainnya…,
Satu hal yang engkau dan aku mengetahuinya…, saat pertama kali bertemu denganmu aku sudah merasa dekat denganmu, hatiku memilihmu, perasaanku kuat terhadapmu sejak awal,
Dan yang kita sama-sama ketahui, kau juga merasakan hal yang sama, ini berdasarkan perkataanmu kepadaku pada suatu sore.
Masih ingatkah kau tentang itu?
Kalau kau lupa aku akan dengan senang hati menceritakannya kepadamu lagi…
Sungguh sahabatku, aku mengingat semua yang terjadi diantara kita, konflik yang ada, bercandaan yang sampai membuat perutku sakit karna tertawa denganmu, air mata yang ku teteskan ketika engkau jatuh sakit, do’a yang sama-sama kita panjatkan saat kita berjuang, gelisah yang kurasakan saat kau dalam masalah…
Aku mengingatnya dengan jelas, bagai potongan slide yang tak henti-hentinya diputar dari proyektor terbaik dunia.
Sahabatku…
Kita telah berkomitmen untuk saling terbuka, untuk saling mengingatkan, untuk saling memaafkan…
Entah kenapa, aku merasa diantara kita sedang ada sebuah masalah, masalah yang engkau tidak mau terbuka denganku..
Aku terus bertanya kenapa kau tidak mau terbuka denganku atas masalah itu, dan akupun terus bertanya sejak kapan kau seperti ini, dan sampai kapan kau akan menyimpannya…
Ingatkah kau setiap kali aku bertanya, apakah ada masalah denganku, atau apakah ada masalah denganmu?
Dan kau selalu menjawab “semuanya baik-baik saja”
Tahukah kau, ketika aku bertanya hal tersebut bukan berarti aku tidak mengetahui masalah yang ada, namun aku ingin kau yang menceritakannya kepadaku, aku ingin kau yang memulai men-solve masalah kita..
Kenapa aku menginginkanmu…
Karna aku tau kau sangat susah untuk terbuka, kau terbiasa dengan menyelesaikannya dengan memikirkan masalah itu sendiri, kau merasa masalah itu akan selesai dengan dirimu sandiri, kau lupa bahwa aku berada disampingmu untukmu, untuk menyelesaikan masalah kita dengan damai, taka da rasa berat sebelah kana kau hanya menganggapnya selesai..
Padahal…, tahukah kau sahabatku…
Masalah itu tidak akan selesai hanya dengan diselesaikan satu pihak, tidak akan, sekuat apapun kau menganggapnya selesai.
Entah kau merasa atau tidak, bahwa ketika kau memiliki masalah aku jga merasakannya…, salah satu hal yang membuatku terus bertanya tentang aanya masalah atau tidak, adalah ini.., feeling ku kuat terhadapmu…
Aku sedih, sangat sedih ketika suatu ketika menemukan masalah yang sudah jelas itu salahku, tapi kau tidak menegurku, tapi kau tidak mengklarifikasikannya denganku,kau malah memberitahukan masalah itu kepada orang lain.
Hal ini membuatku merasa apakah kau sudah tidak menganggapku sebagai seorng sahabat?, sehingga kau melupakan komitmen yang kita bangun. Apa aku telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar tanpa ku sadari, tapi kau sangat tersakiti oleh perbuatanku itu?.
Maaf….
Entah kata-kata apalagi yang harus ku sampaikan kepadamu, selain kata maaf itu…., sering ku merasa kau tidak memaafkanku….
Kali ini mungkin aku akan membuka suatu rahasia, rahasia yang tidak kau ketahui, rahasia antara aku dengan kau,
Ketika aku membuat masalah, sjatinya aku sedang menguji kepekaanmu terhadap kesalah sengajaku…, melatihmu untuk menegurku…, dan melatihmu menganggapku sebagai sahabatmu…
Ketika aku melakukan hal yang tidak kau suka, sejatinya aku sedang menguji kesabaranmu, aku menguji kesabaran sahabatku terhadap suatu hal yang tidak kau sukai, ini melatih kekuatan kejiwaanmu…, hal ini dnegan sengaja ku lakukan karna aku masih melihat kau belum kuat dengan hal ini…
Ini semua kualakukan atas kesadaranku…, untuk menempahmu menjadi lebih kuat, menempahmu untuk menjaani komitmen dengan penuh…
Maaf aku telah menyakitimu…, menyakit fisik dan perasaanmu…, sampai kau tidak lagi mau terbuka denganku..
Sekarang aku tau kau butuh sendiri, tanpaku, kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya mulai dari awal…
Aku menunggumu kembali seperti sedia kala…
Aku merindukanmu yang masih menganggapku sahabatmu…
Kalaupun persahabatn kita harus berkhir dengan hal ini…
Aku sempat terlintas dalam fikiranku, perbandingan masalah ini tidak sebanding dengan waktu persahabatan kita…
Kalau kau tau, aku begit termotivsi dengan adanya engkau disisiku…
Maafkan aku…
Aku sadar tidak ada persahabatan yang sempurna didunia ini…, yang ada hanyalah kita yang mencoba menyempurnakannya..
Aku sangat menyayangimu…
Sayang karna Allah…
*di tulis dengan linangan air mata, sejuta rasa berdesir di hati, sejuta harapan melambung tinggi sampai kelangit ke tujuh…, berharap kau membacanya…, berharap kau memahaminya…, bhwa saat ini hatiku sangat hancur…*