Aku dan Bigbang-ku

Mungkin kalau hanya membaca kata-kata bigbang, yang melintas difikiran kalian adalah salah satu nama teori evolusi, atau  malah boy band asal Korea Selatan yang sedang buming dan mungkin semua identic dengan ledakan besar.

Kalau iya, aku tidak dapat menyalahkan kalian, semua yang ada difikiran kalian tentang bigbang adalah benar (?). 

Bigbang ini milikku, ‘ledakan besar’ yang tercipta secara bertahap. Ledakan yang kalau tidak aku tahan mungkin akan lebih besar ‘ledakan’, ‘dentuman’ serta ‘goncangan’ yang terjadi. Harusnya tidak terjadi disaat yang tidak tepat, di saat salah satu teman seperjuanganku memulai manapaki umurnya yang ke-16. Aku yang seharusnya bersikap sewajarnya teman baik, malah bisa jadi akulah penghancur ukiran indah angka 16 di atas ubun-ubunnya.

Bigbang, nama angkatanku…

Dan aku mengeluarkan Bigbangku yang pertama saat aku berada di angkatan ini.

Hhh…

Cerita yang sebenarnya..

Saat itu aku hanya sedang memiliki sedikit ‘bumbu’ dalam fikiranku, yang ‘bumbu’ tersebut bekerja selayaknya bumbu biasa. Dia memberi ‘rasa’ yang lain dalam fikiranku. Saat aku sedang ‘terbumbui’ itu, aku tidak ingin seorangpun (siapa pun dia) menggangguku. Bukan berarti aku maunya dijauhi, akan tetapi fikiranku sedang ‘terbumbui’. Saat aku berkata tidak!. Itu berarti TIDAK AKAN!. Saat itu aku menjawabnya dengan mimic yang masih ‘terkontrol’. Aku masih menjawabnya dengan tersenym-senyum.

Aku hanya ingin sibuk dengan fikiranku. Itu saja. Bukan berarti aku tidak memperdulikan teman seperjuanganku yang sedang (entah) berbahagia atau sedih dengan berkurang sekaligus bertambahnya umur beliau. Meskipun aku hanya diam, bukan berarti aku tidak memngirimkan doa untuknya.

Maaf, karna ‘Bigbang’ ku keluar tak tertahankan…

Itu yang pertama dan terakhir insyaallah…

Buat yang milad ‘sanah helwah ya?’

Maaf karna aku, kamu jadi tidak terlihat segembira sebelumnya…

Tapi aku berterima kasih buat yang sudah berhasil menimbulkan ‘kristal indah’ yang jatuh menganak sungai setelah aku ‘meledak’, karna kalian sudah membuatku lepas dari emosi yang ditahan demi melihat teman kita terus tersenyum…

Tapi akhirnya ‘meledak’ juga…

Runtuh sudah benteng pertahananku yang kubangun dari sejak masih di sekolah. Hmm…

Love you coz Allah… clover

 

Untukmu… Sahabatku…(kalau kau masih menganggapku sahabat)

Ingatkah engkau sahabatku…

Jangka waktu persahabatan kita bukan lagi hitungan detik, menit, bahkan jam atau bahkan hari…

Dimulai dari sebuah ketidak kenalan antara diriku dan dirimu, diawali dengan segudang rasa penasaranku terhadapmu, dimulai dengan senyummu yang membatku berani mengajakmu berkenalan…

Wahai sahabatku…

Kita telah sama-sama mengetahui, bahwa aku bukanlah orang yang mudah untuk percaya sama orang lain, bahwa kamu bukanlah orang yang suka dikhianati, dan kita sama-sama telah berkomitmen untuk mempercayai satu dengan yang lainnya…,

Satu hal yang engkau dan aku mengetahuinya…, saat pertama kali bertemu denganmu aku sudah merasa dekat denganmu, hatiku memilihmu, perasaanku kuat terhadapmu sejak awal,

Dan yang kita sama-sama ketahui, kau juga merasakan hal yang sama, ini berdasarkan perkataanmu kepadaku pada suatu sore.

Masih ingatkah kau tentang itu?

Kalau kau lupa aku akan dengan senang hati menceritakannya kepadamu lagi…

Sungguh sahabatku, aku mengingat semua yang terjadi diantara kita, konflik yang ada, bercandaan yang sampai membuat perutku sakit karna tertawa denganmu, air mata yang ku teteskan ketika engkau jatuh sakit, do’a yang sama-sama kita panjatkan saat kita berjuang, gelisah yang kurasakan saat kau dalam masalah…

Aku mengingatnya dengan jelas, bagai potongan slide yang tak henti-hentinya diputar dari proyektor terbaik dunia.

Sahabatku…

Kita telah berkomitmen untuk saling terbuka, untuk saling mengingatkan, untuk saling memaafkan…

Entah kenapa, aku merasa diantara kita sedang ada sebuah masalah, masalah yang engkau tidak mau terbuka denganku..

Aku terus bertanya kenapa kau tidak mau terbuka denganku atas masalah itu, dan akupun terus bertanya sejak kapan kau seperti ini, dan sampai kapan kau akan menyimpannya…

Ingatkah kau setiap kali aku bertanya, apakah ada masalah denganku, atau apakah ada masalah denganmu?

Dan kau selalu menjawab “semuanya baik-baik saja”

Tahukah kau, ketika aku bertanya hal tersebut bukan berarti aku tidak mengetahui masalah yang ada, namun aku ingin kau yang menceritakannya kepadaku, aku ingin kau yang memulai men-solve masalah kita..

Kenapa aku menginginkanmu…

Karna aku tau kau sangat susah untuk terbuka, kau terbiasa dengan menyelesaikannya dengan memikirkan masalah itu sendiri, kau merasa masalah itu akan selesai dengan dirimu sandiri, kau lupa bahwa aku berada disampingmu untukmu, untuk menyelesaikan masalah kita dengan damai, taka da rasa berat sebelah kana kau hanya menganggapnya selesai..

Padahal…, tahukah kau sahabatku…

Masalah itu tidak akan selesai hanya dengan diselesaikan satu pihak, tidak akan, sekuat apapun kau menganggapnya selesai.

Entah kau merasa atau tidak, bahwa ketika kau memiliki masalah aku jga merasakannya…, salah satu hal yang membuatku terus bertanya tentang aanya masalah atau tidak, adalah ini.., feeling ku kuat terhadapmu…

Aku sedih, sangat sedih ketika suatu ketika menemukan masalah yang sudah jelas itu salahku, tapi kau tidak menegurku, tapi kau tidak mengklarifikasikannya denganku,kau malah memberitahukan masalah itu kepada orang lain.

Hal ini membuatku merasa apakah kau sudah tidak menganggapku sebagai seorng sahabat?, sehingga kau melupakan komitmen yang kita bangun. Apa aku telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar tanpa ku sadari, tapi kau sangat tersakiti oleh perbuatanku itu?.

Maaf….

Entah kata-kata apalagi yang harus ku sampaikan kepadamu, selain kata maaf itu…., sering ku merasa kau tidak memaafkanku….

Kali ini mungkin aku akan membuka suatu rahasia, rahasia yang tidak kau ketahui, rahasia antara aku dengan kau,

Ketika aku membuat masalah, sjatinya aku sedang menguji kepekaanmu terhadap kesalah sengajaku…, melatihmu untuk menegurku…, dan melatihmu menganggapku sebagai sahabatmu…

Ketika aku melakukan hal yang tidak kau suka, sejatinya aku sedang menguji kesabaranmu, aku menguji kesabaran sahabatku terhadap suatu hal yang tidak kau sukai, ini melatih kekuatan kejiwaanmu…, hal ini dnegan sengaja ku lakukan karna aku masih melihat kau belum kuat dengan hal ini…

Ini semua kualakukan atas kesadaranku…, untuk menempahmu menjadi lebih kuat, menempahmu untuk menjaani komitmen dengan penuh…

Maaf aku telah menyakitimu…, menyakit fisik dan perasaanmu…, sampai kau tidak lagi mau terbuka denganku..

Sekarang aku tau kau butuh sendiri, tanpaku, kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya mulai dari awal…

Aku menunggumu kembali seperti sedia kala…

Aku merindukanmu yang masih menganggapku sahabatmu…

Kalaupun persahabatn kita harus berkhir dengan hal ini…

Aku sempat terlintas dalam fikiranku, perbandingan masalah ini tidak sebanding dengan waktu persahabatan kita…

Kalau kau tau, aku begit termotivsi dengan adanya engkau disisiku…

Maafkan aku…

Aku sadar tidak ada persahabatan yang sempurna didunia ini…, yang ada hanyalah kita yang mencoba menyempurnakannya..

Aku sangat menyayangimu…

Sayang karna Allah…

*di tulis dengan linangan air mata, sejuta rasa berdesir di hati, sejuta harapan melambung tinggi sampai kelangit ke tujuh…, berharap kau membacanya…, berharap kau memahaminya…, bhwa saat ini hatiku sangat hancur…*

 

 

Radio Ibuku

09.00 (pagi di sekolah)
Hari ini hari pertama ku menjalani hidup sebagai penyiar radio part time pada sebuah stasiun radio di daerahku ini. Harapanku sudah tercapai kali ini, menjadi penyiar radio. Semoga hari ini aku bisa menjalaninya dengan baik.
11.30 (istirahat di sekolah)
“Tanti!” seseorang memanggilku. Aku masih sibuk dengan buku yang baru saja ku beli sehari setelah hari ulang tahunku. Rasanya berat untuk menoleh barang sekejap kearah sumber suara. Tapi aku yakin dia temanku.
“ya?, ada apa?” masih berkutat dengan buku, aku menjawab panggilannya.
Nafas temanku masih memburu, sepertinya dia telah lama mencariku dengan panic. Aku yang merasa heran menoleh. “Tan, ibu kamu di rumah sakit!” serunya terbata seraya menepis tetesan peluh didahinya.
Aku yang menoleh hanya untuk melihat keadaan temanku yang ngos-ngosan, menjadi terbelalak kaget. Rasa senang menerima pekerjaan baru tadi pagi bahkan itu masih bisa dihitung 2 jam yang lalu, sirna sudah. Entah sebesar apa bogem yang mengenai kepala dan hatiku secara bersamaan. Barita itu bukan hanya berita yang biasa hanya membuatku berdecak menganggap remeh. Ini soal ibu.
13.00 (rumah sakit, ruang tunggu)
Suara riuh rendah memenuhi ruang tunggu rumah sakit milik Negara ini. Aku memangku tubuh lemas ibu. Ini semua diluar dugaanku, dalam fikiranku ibu sudah berada di dalam ruangan yang lebih layak dari pada RUANG TUNGGU ini. Hatiku sudah tak karuan bentuknya, entah perasaan apa yang jelas dalam hati ini. Marah, sedih, kecewa dan segudang rasa yang tak bisa diartikan lagi saat ini. Otakku hanya berfikir dengan abstrak tanpa jelas yang mana yang paling urgen.
Maaku nanar menatap sekitar, air mata mengalir tipis namun tak henti dipipiku yang sebelumnya slalu merona merah karna senang. Ibu ditahan, belum dimasukkan ruangan karna badministrasi rumah sakit yang belum kelar diurus oleh pamanku yang berbaik hati masih mau mengurusi aku dan ibuku saat ayah entah pergi kemana.
“ayo Tanti, bantu ibu kamu berdiri nduk!” perintah paman membuyarkan fikiran-fikiran abstrakku. Aku hanya merespon dengan anggukan mantap dan segera membantu ibu berdiri. Sungguh baru kali ini aku membopong tubuh kurus ibu, sungguh baru kali ini aku membantunya untuk berdiri.
“Bismillah..” bisikku lirih saat berusaha mengangkat tubuh kurus ibu. Aku takut manyakitinya. Hatiku bertambah perih ketika mengangkat tangan ibu untuk mengangkat anggota tubuh yang lain, tangan ibu begitu lemas, bahkan sangat tak ada daya dilamnya, mata ibu hanya menatap sayu dan kosong. Mata yang biasanya memancarkan api semangat hidup yang luar biasa tinggi. Kali ini ibu membutuhkanku untuk menyemangatinya. Kali ini adalah saatku mengurus ibu. Kali ini bagianku bu.
15.25(Bangsal, setelah dari ruang ICU)
Tiiiit….tlililit…tiiit, suara Hpku menghentikan mondar-mandirku di samping ranjang ibu. Segera ku angkat tanpa meliahat siapa yang menelponku disaat genting seperti ini.
“halo assalamualaikum?” ku jawab terlebih dahulu dengan sapaan seperti biasa. Salam.
“waalaikumussalam, dek apa benar ini dengan Tanti Medina?” suara yang sepertnya tak asing lagi di telingaku, aku masih mencoba mengingat suara ini sampai dia menyelesaikan kalimatnya.
“oh, iya, benar dengan saya sendiri, ini dari Tim radio ya?” aku mencoba menebak orang tadi.
“benar sekali, dek maaf kalau mengganggu jam sibuk adek, tapi kita bentar lagi mau On air giliran adek ngisi nih, apa untuk kali ini adek bisa hadir?, kalau seandainy tidak bisa tolong segera konfirmasi kepihak kami, karna adek akan segera digantikan oleh yang lain” aku mendengarkan dengan fikiran yang tidak focus. Namun aku dapat mencerna perkataan itu dengan baik, aku menimbang-nimbang dengan hati sangat bimbang.
“eemmmh.., maaf saya sedang mengurusi ibu saya yang berada dirumah sakt jadi untuk kali ini, saya tidak bisa mengisi terlebuh dahulu, mohon maaf, karna saya tidak menepati janji, anda boleh memotong gaji saya, trima kasih sudah mengonfirmasi saya” aku menjawab pertanyaannya dengan lancar dan tanpa ragu seperti saat aku memikirkannya. Tak apa gajiku dipotong. Tak apa aku tidak mengisi pada ari pertamaku bekerja. Yang terpenting adalah kondisi ibu sekarang.
Percakapan selesai dengan ucapan “cepat sembuh ya ibunya” ucapan yang ramai sekali diucapkan seluruh orang yang ada diruangan itu. Hatiku bergetarmendengar simpatik yang begitu tulus dari rekan-rekan kerjaku yang baru saja ku kenal seminggu ini.
“Tan, kok gak nyiar?” Tanya paman yang baru saja datang dari kantin untuk membeli beberapa roti buatku dan beliau.
“gak apa-apa, wong ibu sakit, masa Tan pergi seenake dewe” balasku dengan senyum mengembang, meskipun tak seperti biasanya. Kali ini aku tersenyum dengan penuh rasa pedih dihati.
“owalah..nduk…nduk.., padahal disini kan ada pamanmu ini, moso kamu ndak percaya sih dengan pamanmu ini?” paman menjawab dengan aksen medok jawa yang sangat kental. Meskipunt tak terdengar nada kecewa pada perkataannya namun aku merasa sedikit bersalah padanya.
“yo, ndak gitu juga tho paman, saya ini juga mau jaga ibu, bantu-bantu paman.” Paman hanya mengangguk dan menepuk bhuku lembut.
Ibu masih terlelap diatas kasurnya. Wajahnya sudah tidak begitu kuyu seperti beberapa jam yang lalu. Namun aku masih teringat dengan pelayanan rumah sakit Negara ini yang begitu mengoyak hati.
09.00 (pagi, rumah sakit)
“nduk, bangun ndak sekolah?” ini suara lirih ibu. Ibu mengusap rambut hitamku yang tumbuh sehat waaupun tidak pernah ke salon. Aku tertidur disisi ranjang ibu.
“ndak bu.., Tan izin ngurus ibu tadi sama kepala sekolah” aku menatap mata ibu yang sudah mulai memancarkan kembali sinar indah itu.
“ooh..” ibunya hanya bergumam sebentar sambil menyunggingkan senyumnya. Membuatku merasa lebih tenang.
“oh iya bu, hari ini Tan ada jadwal siaran. Tan boleh siaran sebentar?” aku bertanya dengan hati-hati takut ibu merasa aku tidak memikirkannya.
“oh, bleh tho nduk, ibu pengen denger anak ibu satu-satunya ini siaran, gimana sh suara indahnya itu On Air di radio” ibu menggodaku dengan candaan ringan ala beliau.
Pipiku bersemu merah karna malu, pamanku hanya tertawa menepuk punggungku. Yah, kali ini aku bertekad untuk siaran. Aku ingin mengeluarkan kekecewaanku terhadap Negara kali ini. Aku sudah bertekad.
15.46 (on Air)
“yak, ini dia yang kita tunggu-tunggu, pemutaran lagu-lagu hasil request dari sahabat-sahabat kita tadi, okey this it!” aku berkotek dengan lancar di depan mic ruangan siaran itu. 15 menit berlalu dengan lantuanan berbagai lagu.
“okey, now I’ll speak about RUMAH SAKIT NEGARA, kenapa tentang ini karna saya meliat Negara ini kurang adil terhadap rakyat miski, terlalu mata duitan dan yah…, maunya menang sendiri. Pemerintah dengarlah, berapa juta jiwa yang meninggal karna tak mampu memenuhi biaya yang tinggi di rumah sakitmu…” aku masih terus berbicara dengan lancar sampai selesai.
Ibu, paman dan seluruh kota mendengarnya bahkan luar kotapun mendengarnya. Semua menyaksikan. Kali ini aku berkata dengan lantang. Puas sudah hatiku.
Teman-teman rekan kerjaku menyalamiku, memelukku menguatkanku. Tanpa sepengetahuanku ibuku dan pamanku beserta seluruh pasien di satu bangsal menitikkan air mata. Langit mencatatnya. Ini protesku, untuk hakku.

3 hari

Sebenarnya, kita hanya punya 3 hari saja:

 

 

Yang pertama

 

hari kemarin. Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.

Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan

dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.

Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja…

 

Yang kedua

hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi.

Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja…

 

 

 

Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Pintu masa lalu telah tertutup

pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.

Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

 

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda. Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri

 

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga!!!!!!

 

 

The day will come when you will review your life and be

thankful for every minute of it.

Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every

moment of your life will be a treasure to you……

 

 

 

kopi, wortel, telur

kasih di balik tirai

Oi, apakah hari ini akan ada berita buruk lagi?. Pertanyaan yang akan di tanyakan setiap orang apabila musibah terus membanjiri media massa. Tapi auran itu tida akan berlaku bagi orang seperti Afrina. Eit, saya bukan cuma mau cerita soal Afrina, dan saya akan terus menjaga agar rahasia kehidupan ajaib mereka tidak terbongkar seluruhnya, saya hanya pernah menjadi teman sepermanainannya Afrina.

“Apakah

Rona Safir

Huff….!, semua harus tuntas dini hari nanti. Harus.

” Kak, kenapa masih belum tidur?” adikku bertanya dengan mata kuyu. Ngantuk.

” Belum ngantuk.” Jawabku pendek. Mendengarku berkata demikian adikku merngut, malas bertanya lagi lantas melanjutkan tidur. Diluar sedang hujan deras, membuat tidur terasa sangat nyaman.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara, kakku sudah lama pergi karna telah berkeluarga waktu itu umurku baru 12 tahun, kakku 20 tahun, dan adikku 7 tahun. Ibu masih muda, walaupun begitu kerut di wajah beliau menyamarkan umur ibuyang baru menginjak 39 tahun, benar ibuku menikah umur 18 tahun. masih sangat muda. Hari-hariku berjalan normal seperti anak yang lain samapai aku harus mengetahui inilah hidup.

” Hei…! jangan ganggu kertas-kertasku!” aku berteriak marah saat seseorang mebuka lembar-demi lembar kertas-kertas yang ada di atas meja reot di ruang tamu,  meskipun kertas-kertas itu lusuh dan kusam tapi entah mengapa orang itu tertarik membuka-bukanya, padahal orang serumah pun tidak tertarik menyentuh bahkan melirik kertas-kertas itu.

” Gak ada yang melarangnya bukan? ” Bertanya dengan wajah tanpa rasa bersalah. ” Lagian aku hanya iseng buka-buka bukan berniat untuk mننننembaca dengan serius. ” lagi-lagi dengan wajah cuek, kali ini tak mau di salahkan.

” Oya…?, tak bisaka kau lebih sopan sebagai seorang tamu, siapa lagi yang membolehkanmu masuk ke rumah ku ” aku menyeringai galak tak tertarik mendekat. Aku tau saat ini tidak ada orang di rumah adikku sekolah, ayah pergi kerja, sedangkan ibu seperti biasa akan pulang sekitar jam tujuh atau jam delapan-an.

” Lagi pula kenapa kamu musti marah, tulisan ini bagus ” katanya dengan kembali menatap kertas-kertas itu.sepertipetir yang di sulut 6000 volta aku hanya diam, mencoba tak tegang lebih rileks.

” Em.., sebaiknya kalau kamu tidak ada urusan lain, segeralah pergi. Karna tidak baik berada di rumah orang lama-lama” kataku setelah mencoba berbicara yang itupun di kuat-kuatkan, entah mengapa dia seperti membuka luka lama yang pernah ada, setelah berbicara aku langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan dia di ruang tamu. Entah bagaimana wajahnya, masa bodoh.

Aku harus menuntaskannya. Karna aku butuh bantuannya, kuharap dia tidak bertele-tele dalam hal ini. Oi..! aku lupa kalau aku belum menjelaskan apa maksud dari seemua itu, ooo..h haruskah?, baiklah-baiklah jika kalin memaksa.

semua bermula dari hari itu, hari dimana aku bertemu dengannya, dengan orang yang sudah ku bentak-bentak di pertemuan pertama, aku kira kalian akan menilai ini adalah kisah cinta remaja seperti biasa?, lebih baik simpan saja perkiraan kalian itu, karna ini bukan hanya soal cinta tapi juga soal pengorbanan, dan kesetiaan.

Sebenarnya aku sudah lebih dari 2 tahun tidak menyentuh kertas itu lagi, malas mungkin, tapi saat itu aku memang tidak pernah memiliki inspirasi lagi. Aku pun bingung 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.